Umat Islam meyakini bahwa Allah menurunkan obat untuk tiap penyakit. Nabi mendorong kaum muslimin untuk mencari pengobatan untuk penyakit, dan sahabat selalu mendengarkan nasihat Nabi yg berhubungan dengan pengobatan. Namun ada perbedaan pendapat tentang tip-tip pengobatan dari Nabi, ada yg mempercayai bahwa hal itu bagian dari informasi yang diterima dari Allah SWT., dan ada pula yang punya pendapat berbeda, bahwa tip-tip pengobatan itu adalah pengalaman pribadi dan hasil dari pengaruh lingkungan.
Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa setiap penyakit ada obatnya kecuali tua dan kematian. Hal ini menginspirasi para pasien dan dokter untuk selalu memiliki harapan. Orang yang sakit akan terus memilki harapan bahwa cepat atau lambat mereka akan mendapat obat yang menyembuhkan, sedangkan dokter akan terus bekerja keras menemukan obat untuk berbagai penyakit.
BACA SELENGKAPNYA DI https://bsmijakarta.or.id/pengobatan-cara-nabi-pengalaman-pribadi-atau-petunjuk-ilahi/
Senin, 09 Desember 2019
Mengajarkan Akidah Sejak Dini
Alqamah rahimahullah berkata, “Segala sesuatu yang kuhafal sejak aku masih belia, maka sekarang seakan-akan aku melihatnya di atas kertas atau lembaran catatan.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/30)
Usia dini adalah saat terpenting untuk penanaman pondasi akidah karena saat itu fitrah anak masih bersih. Ibarat memahat di atas kayu, begitulah saat mengajarkan ilmu di usia belia. Inilah tanggung jawab ayah ibu dan para guru agar anak tumbuh di atas fitrah yang lurus.
Akidah merupakan kunci kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Para nabi dan rasul pun telah menyeru kepada anak pada akidah yang lurus dengan menanamkan pemahaman akidah sejak dini.
Firman Allah,
BACA SELENGKAPNYA DI https://nurulqurandepok.com/mengajarkan-akidah-sejak-dini/
Usia dini adalah saat terpenting untuk penanaman pondasi akidah karena saat itu fitrah anak masih bersih. Ibarat memahat di atas kayu, begitulah saat mengajarkan ilmu di usia belia. Inilah tanggung jawab ayah ibu dan para guru agar anak tumbuh di atas fitrah yang lurus.
Akidah merupakan kunci kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Para nabi dan rasul pun telah menyeru kepada anak pada akidah yang lurus dengan menanamkan pemahaman akidah sejak dini.
Firman Allah,
BACA SELENGKAPNYA DI https://nurulqurandepok.com/mengajarkan-akidah-sejak-dini/
Senin, 02 Desember 2019
Mitokondria : Sebuah Kisah Cinta Abadi
Tulisan ini seharusnya merupakan kisah tentang Ibu dan warisan kehidupan yang diberikannya, ini adalah kisah tentang Mitokondria.
Saya kira semua orang tahu dan pernah membaca Harry Potter dan bagaimana ia mendapat reputasi sebagai the boy that survived , Voldermort tidak mampu menyentuh apalagi mencederainya karena perlindungan- menurut Dumbledore, an ancient protective charm yaitu cinta seorang ibu. Pengorbanan ibu telah memberikan Harry perlindungan dari sihir hitam sampai mencapai usia baligh.
Masih mengenai Ibu, dalam Islam kita mengenal suatu hadits yang mengatakan bahwa syurga berada di telapak kaki ibu, mengindikasikan betapa terhormat posisi seorang ibu dalam kehidupan. Ditambah lagi hadist lain yang mengatakan sampai tiga kali untuk kita menghormati ibu sebelum menghormati ayah kita, Ibu,ibu, ibu baru lah ayah.
Who should i give my love to, my respect, my honour to, who should i give good mind to, after Allah and Rasulullah? comes your mother, who next ? your mother ? who next ? your mother and then your father.
– Puitisasi dalam lagu Yusuf Islam
Dalam cerita rakyat kita mengenal kisah Malin Kundang yang kedurhakaannya telah menyakiti ibunya sendiri hingga terucaplah kutukan tersebut, dan si Malin berubah menjadi batu. Kasih ibu sepanjang jalan dan kini perkembangan ilmu pengetahuan telah mendapat bukti-bukti yang mendukungnya.
Berkembang diantara para pakar biologi bahwa pada organisme multiselular, sel-sel diatur secara hierarkis dan karenanya terdapat sebuah entitas master, dipercayai bahwa entitas utama ini bukanlah inti sel seperti yang dipercayai sebelumnya, namun tidak lain adalah maternal mitochondrion yaitu mitokondria yang kini diketahui diwarisi secara maternal. DNA Mitokondria ( mtDNA) diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa dipengaruhi atau dihalang-halangi oleh mekanisme seksual. Sementara DNA inti (nDNA) tidak lain dari campuran antara DNA ibu dan ayah.
BACA SELENGKAPNYA DI https://bsmijakarta.or.id/mitokondria-sebuah-kisah-cinta-abadi/
Saya kira semua orang tahu dan pernah membaca Harry Potter dan bagaimana ia mendapat reputasi sebagai the boy that survived , Voldermort tidak mampu menyentuh apalagi mencederainya karena perlindungan- menurut Dumbledore, an ancient protective charm yaitu cinta seorang ibu. Pengorbanan ibu telah memberikan Harry perlindungan dari sihir hitam sampai mencapai usia baligh.
Masih mengenai Ibu, dalam Islam kita mengenal suatu hadits yang mengatakan bahwa syurga berada di telapak kaki ibu, mengindikasikan betapa terhormat posisi seorang ibu dalam kehidupan. Ditambah lagi hadist lain yang mengatakan sampai tiga kali untuk kita menghormati ibu sebelum menghormati ayah kita, Ibu,ibu, ibu baru lah ayah.
Who should i give my love to, my respect, my honour to, who should i give good mind to, after Allah and Rasulullah? comes your mother, who next ? your mother ? who next ? your mother and then your father.
– Puitisasi dalam lagu Yusuf Islam
Dalam cerita rakyat kita mengenal kisah Malin Kundang yang kedurhakaannya telah menyakiti ibunya sendiri hingga terucaplah kutukan tersebut, dan si Malin berubah menjadi batu. Kasih ibu sepanjang jalan dan kini perkembangan ilmu pengetahuan telah mendapat bukti-bukti yang mendukungnya.
Berkembang diantara para pakar biologi bahwa pada organisme multiselular, sel-sel diatur secara hierarkis dan karenanya terdapat sebuah entitas master, dipercayai bahwa entitas utama ini bukanlah inti sel seperti yang dipercayai sebelumnya, namun tidak lain adalah maternal mitochondrion yaitu mitokondria yang kini diketahui diwarisi secara maternal. DNA Mitokondria ( mtDNA) diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa dipengaruhi atau dihalang-halangi oleh mekanisme seksual. Sementara DNA inti (nDNA) tidak lain dari campuran antara DNA ibu dan ayah.
BACA SELENGKAPNYA DI https://bsmijakarta.or.id/mitokondria-sebuah-kisah-cinta-abadi/
Konsep Pendidikan Dalam Al-Quran
Allah telah menurunkan risalah terakhirnya berupa Al-Quran kepada rasul terakhir pilihannya, Muhammad saw. Sebagai kitab penutup dan juga rasul penutup, maka Allah memberikan nikmat yang tidak diberikan oleh-Nya kepada para rasul dan umat-umat yang terdahulu, nikmat tersebut adalah risalah Islam yang lengkap dan integral berupa Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya.
Sebagai risalah yang lengkap, berarti risalah Muhammadiyah mencakup semua lini kehidupan manusia, tidak ada satu lini kehidupan pun yang luput dari risalah ini. Maka dari itulah Allah menegaskan dalam firman-Nya:
“…Tidak kami luputkan dalam Al-Quran sesuatu apa pun….” (Al-An’am: 38)
Dari ayat tersebut maka kita akan jumpai dalam Al-Quran berbagai pembahasan mengenai kehidupan manusia; hukum, sosial, budaya, politik, ekonomi, peradaban, dan yang terpenting adalah pendidikan.
Pendidikan merupakan satu dari pembahasan-pembahasan yang ada pada Al-Quran. Maka pas jika ayat yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. Adalah perintah untuk membaca. Di samping itu, dalam Al-Quran juga banyak sekali kisah tentang para nabi yang mendidik kaumnya, juga para ayah mendidik anak-anaknya sebagaimana Ibrahim mendidik Ismail, Ibrahim mendidik Ishaq, Ishaq mendidik Ya’kub, Ya’kub mendidik kedua belas anaknya termasuk di antaranya Yusuf AS. Tak luput pula, bagaimana Allah menerangkan tentang pendidikan yang diberikan oleh Maryam kepada anaknya Isa as. Juga Hajar kepada anaknya Ismail as.
BACA SELENGKAPNYA DI https://nurulqurandepok.com/konsep-pendidikan-dalam-al-quran/
Sebagai risalah yang lengkap, berarti risalah Muhammadiyah mencakup semua lini kehidupan manusia, tidak ada satu lini kehidupan pun yang luput dari risalah ini. Maka dari itulah Allah menegaskan dalam firman-Nya:
“…Tidak kami luputkan dalam Al-Quran sesuatu apa pun….” (Al-An’am: 38)
Dari ayat tersebut maka kita akan jumpai dalam Al-Quran berbagai pembahasan mengenai kehidupan manusia; hukum, sosial, budaya, politik, ekonomi, peradaban, dan yang terpenting adalah pendidikan.
Pendidikan merupakan satu dari pembahasan-pembahasan yang ada pada Al-Quran. Maka pas jika ayat yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. Adalah perintah untuk membaca. Di samping itu, dalam Al-Quran juga banyak sekali kisah tentang para nabi yang mendidik kaumnya, juga para ayah mendidik anak-anaknya sebagaimana Ibrahim mendidik Ismail, Ibrahim mendidik Ishaq, Ishaq mendidik Ya’kub, Ya’kub mendidik kedua belas anaknya termasuk di antaranya Yusuf AS. Tak luput pula, bagaimana Allah menerangkan tentang pendidikan yang diberikan oleh Maryam kepada anaknya Isa as. Juga Hajar kepada anaknya Ismail as.
BACA SELENGKAPNYA DI https://nurulqurandepok.com/konsep-pendidikan-dalam-al-quran/
Senin, 25 November 2019
Precious moment part one
Selalu ada momen berkesan dalam hidup,yang tidak mudah dilupakan bahkan setelah melewati ribuan kejadian.
bagi saya salah satunya adalah hari ketika pasien IPD yang menjadi bahan observasi selama berminggu-minggu akhirnya menghembuskan nafas terakhir, di tengah kebingungan saya memperhatikan hasil CT-scannya yang tak juga saya pahami.
sedih,kesal,bingung,campur dalam satu mangkok bernama hati.apa yang harus saya lakukan?ujian tinggal beberapa hari lagi,sementara pasien saya “hilang”..PF macam apa yang nanti harus saya peragakan atas orang yang sudah tidak ada?atau ganti pasien?yang juga berarti mengganti judul tugas,cari daftar pustaka baru,dll,dll…pusingnya!!
kaku,saya menghadap Prof Dal (dosen pembimbing saya).beruntung sekali,pas di saat saya benar-benar membutuhkannya (biasanya setengah butuh),pas beliau ada.
kelu sekali lidah saat menceritakan masalah ini pada beliau,karena saya berhusnuzhon:pasti disuruh ganti pasien!
dengan sabar beliau mendengarkan saya,sampai uneg-uneg saya keluar semua.
dan beliau mengeluarkan nasehat yang sampai bertahun lamanya tak pernah saya lupakan:
“sylvi..kewajibanmu terhadap pasien itu ada lima”
“pertama,mendengarkan masalahnya”
“kedua,melakukan pemeriksaan fisiknya,baik olehmu sendiri maupun dibantu oleh alat”
“ketiga,menetapkan hasil analisamu berupa diagnosis”
“keempat,membantu pasienmu dengan terapi yang paling sesuai yang bisa kau usahakan”
BACA SELENGKAPNYA DI https://bsmijakarta.or.id/precious-moment-part-one/
bagi saya salah satunya adalah hari ketika pasien IPD yang menjadi bahan observasi selama berminggu-minggu akhirnya menghembuskan nafas terakhir, di tengah kebingungan saya memperhatikan hasil CT-scannya yang tak juga saya pahami.
sedih,kesal,bingung,campur dalam satu mangkok bernama hati.apa yang harus saya lakukan?ujian tinggal beberapa hari lagi,sementara pasien saya “hilang”..PF macam apa yang nanti harus saya peragakan atas orang yang sudah tidak ada?atau ganti pasien?yang juga berarti mengganti judul tugas,cari daftar pustaka baru,dll,dll…pusingnya!!
kaku,saya menghadap Prof Dal (dosen pembimbing saya).beruntung sekali,pas di saat saya benar-benar membutuhkannya (biasanya setengah butuh),pas beliau ada.
kelu sekali lidah saat menceritakan masalah ini pada beliau,karena saya berhusnuzhon:pasti disuruh ganti pasien!
dengan sabar beliau mendengarkan saya,sampai uneg-uneg saya keluar semua.
dan beliau mengeluarkan nasehat yang sampai bertahun lamanya tak pernah saya lupakan:
“sylvi..kewajibanmu terhadap pasien itu ada lima”
“pertama,mendengarkan masalahnya”
“kedua,melakukan pemeriksaan fisiknya,baik olehmu sendiri maupun dibantu oleh alat”
“ketiga,menetapkan hasil analisamu berupa diagnosis”
“keempat,membantu pasienmu dengan terapi yang paling sesuai yang bisa kau usahakan”
BACA SELENGKAPNYA DI https://bsmijakarta.or.id/precious-moment-part-one/
Minggu, 24 November 2019
Inilah tips parenting untuk mengatasi anak yang sedang marah
Punya anak yang lekas marah dan tantrum tentunya menuntut orangtua untuk menjadi lebih penyabar. Daripada ikut marah-marah dan berakhir dengan sama-sama meledak, coba dulu kalimat-kalimat penenang dalam tips parenting ini.
1. Daripada berkata, “Jangan lempar-lempar barang!”
coba katakan, “Kayaknya Abang (atau panggilan untuk anak lainnya) ngak suka main ini ya, makanya di lempar-lempar terus.”
Teknik pembicara/pendengar ini dirancang untuk membantu mengkomunikasikan perasaan dengan cara yang non-konfrontatif. Hal ini tidak hanya untuk menjaga jalur komunikasi terbuka, tapi juga untuk memberikan model pengungkapan perasaan yang baik dari perspektif orangtua.
2. Daripada berkata, “Abang sudah besar! Ngak boleh begitu,”
coba katakan, “Anak besar dan orang dewasa kadang bisa marah/sedih. Ngak apa-apa, nanti perasaan itu akan hilang.”
Semakin besar anak, semakin besar masalah yang mereka hadapi. Mengatakan pada mereka bahwa anak yang sudah besar tidak boleh marah, sedih atau frustasi adalah hal yang salah. Hal ini juga dapat mendorong anak-anak untuk menekan perasaan mereka dengan cara yang tidak sehat.
3. Daripada berkata, “Jangan pukul ya!”
coba katakan, “Ibu tahu Abang marah, tapi ibu gak bisa biarin Abang mukul. Menyakiti orang lain itu salah.”
Ini adalah pesan tegas yang menunjukkan bahwa tidak apa-apa merasakan emosi marah, tapi tidak untuk tindakannya.
Tips parenting ini mengajarkan kita untuk memisahkan emosi dengan tindakan, agar anak belajar untuk mengontrol emosinya.
4. Daripada berkata, “Abang susah banget dibilangin!”
coba katakan, “Masalah ini susah ya, Bang? Ayo kita cari solusinya bareng-bareng.”
Tips parenting yang satu ini terdengar mudah, tetapi kita sering melupakannya.
Ketika anak-anak tidak mau mendengarkan orangtua, penting untuk memahami alasannya. Kalimat ini memperkuat gagasan bahwa Anda berada di tim yang sama dengan anak, dan akan membantunya menyelesaikan persoalan.
5. Daripada mengatakan, “Sudah! Kita pulang saja!
coba katakan, “Abang lelah, mari kita istirahat di rumah.”
BACA SELENGKAPNYA DI https://nurulqurandepok.com/inilah-tips-parenting-untuk-mengatasi-anak-yang-sedang-marah/
1. Daripada berkata, “Jangan lempar-lempar barang!”
coba katakan, “Kayaknya Abang (atau panggilan untuk anak lainnya) ngak suka main ini ya, makanya di lempar-lempar terus.”
Teknik pembicara/pendengar ini dirancang untuk membantu mengkomunikasikan perasaan dengan cara yang non-konfrontatif. Hal ini tidak hanya untuk menjaga jalur komunikasi terbuka, tapi juga untuk memberikan model pengungkapan perasaan yang baik dari perspektif orangtua.
2. Daripada berkata, “Abang sudah besar! Ngak boleh begitu,”
coba katakan, “Anak besar dan orang dewasa kadang bisa marah/sedih. Ngak apa-apa, nanti perasaan itu akan hilang.”
Semakin besar anak, semakin besar masalah yang mereka hadapi. Mengatakan pada mereka bahwa anak yang sudah besar tidak boleh marah, sedih atau frustasi adalah hal yang salah. Hal ini juga dapat mendorong anak-anak untuk menekan perasaan mereka dengan cara yang tidak sehat.
3. Daripada berkata, “Jangan pukul ya!”
coba katakan, “Ibu tahu Abang marah, tapi ibu gak bisa biarin Abang mukul. Menyakiti orang lain itu salah.”
Ini adalah pesan tegas yang menunjukkan bahwa tidak apa-apa merasakan emosi marah, tapi tidak untuk tindakannya.
Tips parenting ini mengajarkan kita untuk memisahkan emosi dengan tindakan, agar anak belajar untuk mengontrol emosinya.
4. Daripada berkata, “Abang susah banget dibilangin!”
coba katakan, “Masalah ini susah ya, Bang? Ayo kita cari solusinya bareng-bareng.”
Tips parenting yang satu ini terdengar mudah, tetapi kita sering melupakannya.
Ketika anak-anak tidak mau mendengarkan orangtua, penting untuk memahami alasannya. Kalimat ini memperkuat gagasan bahwa Anda berada di tim yang sama dengan anak, dan akan membantunya menyelesaikan persoalan.
5. Daripada mengatakan, “Sudah! Kita pulang saja!
coba katakan, “Abang lelah, mari kita istirahat di rumah.”
BACA SELENGKAPNYA DI https://nurulqurandepok.com/inilah-tips-parenting-untuk-mengatasi-anak-yang-sedang-marah/
Precious moment part one
Selalu ada momen berkesan dalam hidup,yang tidak mudah dilupakan bahkan setelah melewati ribuan kejadian.
bagi saya salah satunya adalah hari ketika pasien IPD yang menjadi bahan observasi selama berminggu-minggu akhirnya menghembuskan nafas terakhir, di tengah kebingungan saya memperhatikan hasil CT-scannya yang tak juga saya pahami.
sedih,kesal,bingung,campur dalam satu mangkok bernama hati.apa yang harus saya lakukan?ujian tinggal beberapa hari lagi,sementara pasien saya “hilang”..PF macam apa yang nanti harus saya peragakan atas orang yang sudah tidak ada?atau ganti pasien?yang juga berarti mengganti judul tugas,cari daftar pustaka baru,dll,dll…pusingnya!!
kaku,saya menghadap Prof Dal (dosen pembimbing saya).beruntung sekali,pas di saat saya benar-benar membutuhkannya (biasanya setengah butuh),pas beliau ada.
kelu sekali lidah saat menceritakan masalah ini pada beliau,karena saya berhusnuzhon:pasti disuruh ganti pasien!
dengan sabar beliau mendengarkan saya,sampai uneg-uneg saya keluar semua.
dan beliau mengeluarkan nasehat yang sampai bertahun lamanya tak pernah saya lupakan:
“sylvi..kewajibanmu terhadap pasien itu ada lima”
“pertama,mendengarkan masalahnya”
“kedua,melakukan pemeriksaan fisiknya,baik olehmu sendiri maupun dibantu oleh alat”
“ketiga,menetapkan hasil analisamu berupa diagnosis”
“keempat,membantu pasienmu dengan terapi yang paling sesuai yang bisa kau usahakan”
BACA SELENGKAPNYA DI https://bsmijakarta.or.id/precious-moment-part-one/
bagi saya salah satunya adalah hari ketika pasien IPD yang menjadi bahan observasi selama berminggu-minggu akhirnya menghembuskan nafas terakhir, di tengah kebingungan saya memperhatikan hasil CT-scannya yang tak juga saya pahami.
sedih,kesal,bingung,campur dalam satu mangkok bernama hati.apa yang harus saya lakukan?ujian tinggal beberapa hari lagi,sementara pasien saya “hilang”..PF macam apa yang nanti harus saya peragakan atas orang yang sudah tidak ada?atau ganti pasien?yang juga berarti mengganti judul tugas,cari daftar pustaka baru,dll,dll…pusingnya!!
kaku,saya menghadap Prof Dal (dosen pembimbing saya).beruntung sekali,pas di saat saya benar-benar membutuhkannya (biasanya setengah butuh),pas beliau ada.
kelu sekali lidah saat menceritakan masalah ini pada beliau,karena saya berhusnuzhon:pasti disuruh ganti pasien!
dengan sabar beliau mendengarkan saya,sampai uneg-uneg saya keluar semua.
dan beliau mengeluarkan nasehat yang sampai bertahun lamanya tak pernah saya lupakan:
“sylvi..kewajibanmu terhadap pasien itu ada lima”
“pertama,mendengarkan masalahnya”
“kedua,melakukan pemeriksaan fisiknya,baik olehmu sendiri maupun dibantu oleh alat”
“ketiga,menetapkan hasil analisamu berupa diagnosis”
“keempat,membantu pasienmu dengan terapi yang paling sesuai yang bisa kau usahakan”
BACA SELENGKAPNYA DI https://bsmijakarta.or.id/precious-moment-part-one/
Langganan:
Postingan (Atom)
